.jpg)
.jpg)
Isuzu Elf Tahun 2004
Oper Kredit / Cash
DP Rp Rp 50.000.000,-
Angsuran Rp 2.340.000,- /Bln Sisa 15 Angsuran
Butuh Cepat!!
Hub. 08124982138
Assalamualaikum Wr. Wb. Bismillah, Mudah-mudahan blog ini bermanfaat.
Setelah beberapa link software portable yang telah sediakan, antara lain, Microsoft Windows Home Edition Portable, CorelDraw 11 portable, dan Adobe Photoshop CS Portable, kini kami kembali hadir untuk menyediakan link Macromedia Flash 8 Portable yang bisa anda download secara gratisan. Hampir semua fitur yang ada di macromedia flash 8 versi installasi itu ada dalam versi yang portable ini. Bisa langsung didownload di :
http://rapidshare.com/files/34611826/MacromediaFlash8Portable.rar
passwordnya : WWW.HEARTODARK.COM
Selamat Mencoba !! :D
BUDAYA JAJAN
by Ummu Syifa'
Kalau anda sempat memperhatikan apa yang menjadi kerumunan siswa-siswi sekolah saat jam istirahat berlangsung, pastilah bakul jajan alias penjual makananlah jawabannya. Pemandangan ini tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah dasar, tapi merata mulai tingkatan playgroup hingga SMU, bahkan tak jarang pula bakul jajan ini mulai merambah dunia kampus. Aneka jajanan seolah terhidang dihadapan anak-anak kita, Dan siap membangkitkan selera siapa saja yang melihatnya. Mulai sosis goreng, tempura, cilot (sejenis bakso), aneka minuman, belum lagi snack dalam kemasan yang tak terhitung lagi jenisnya.
Dari sini, dapat ditarik kesimpulan awal bahwa kebanyakan anak
Pemandangan yang bertolak belakang justru kita temui di negara-negara maju, yang notabene (sebenarnya) memiliki daya beli lebih dibandingkan penduduk negeri ini, Jepang misalnya. Di negeri sakura siswa-siswinya nggak punya kebiasaan njajan, jadi mana mungkin ada penjual makanan di sekolah. Mereka sudah terbiasa membawa bekal sejak mereka kanak-kanak. Wah, andai anak-anak kita memiliki kebiasaan yang sama. Tentu akan lebih banyak membawa maanfaat.
Dengan membawa bekal makanan dari rumah, anak-anak tentu akan lebih bisa berhemat, uang saku bisa masuk dalam tabungan yang sewaktu-waktu dapat mereka pergunakan bila ada kebutuhan mendadak tanpa meminta pada ortu. Terlebih lagi makanan dari rumah lebih terjamin kehalalan dan kebersihannya, karena ibulah yang mengolahnya. Bukankah sebagi seorang muslim kita kudu mmemperhatikan apa-apa yang kita makan, tak cukup halal tapi juga thoyyib (baik). Allah berfirman,
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah:88)
Yang dimaksud baik disini berarti baik pula bagi kesehatan. Sebagai perwujudan syukur kita atas nikmat sehat yang telah allah berikan kepada kita, sudah selayaknyalah kita makan makanan yang sehat dan berguna bagi tubuh, tidak sembarangan mengikuti keinginan.
Penahkan kita bayangkan, apakah makanan halal lagi sehat yang telah kita makan hari ini? Terutama jika kita memiliki anak-anak usia sekolah, sudahkah kita sebagai orang tua memberikan makanan yangsehat dan halal. Jawabannya tentulah anda yang lebih tahu. Sekedar informasi, sekarang ini sudah semakin banyak beredar beraneka macam makanan dan minuman dengan tingkat keamanan yang mengkhawatirkan.
Parahnya lagi, makanan-makanan berbahaya itu justru banyak ditemui di tempat anak-anak biasa njajan, di sekolah misalnya. Mungkin anak-anak tidak banyak tahu kalau saus tomat yang biasa menemani bakso mereka mengandung sakarin (pemanis sintetis yang diduga kuat bisa menyebabkan kanker), dan juga pewarna sintetis yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Belum lagi penambahan MSG yang berlebihan pada snack-snack dalam kemasan. Atau bahaya penggunaan pengawet yang melebihi takaran atau bahkan pengawet yang tidak diperuntukkan untuk makanan. Sudahkah anak-anak kita tahu dengan bahaya yang mengintai kesehatan mereka dikemudian hari? Sudahkah kita mengingatkan mereka?
Seandainya anak-anak kita masih kikuk untuk sekedar membawa bekal, bukankah masih ada alternatif lain untuk memilih makanan/jajanan yang lebih sehat seperti jus buah, atau kalaupun terpaksa membeli snack cobalah untuk membaca komposisi yang terdapat pada kemasannya, terdapat bahan berbahayakah?
Jaman yang serba modern, tidak serta merta meringankan beban kita sebagai orang tua, tapi malah menyisakan setumpuk pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk diselesaikan. Masalah makanan ini hanyalah satu dari banyak permasalahan sebagai dampak modernisasi. Tentulah sebagai seorang muslim kita tidak akan berdiam saja bukan? Masih banyak ilmu yang belum kita kuasai, masih banyak tugas yang harus kita selesaikan. Mari kita bersiap…
by Ummu Syifa
Jika teringat kehidupan kami di awal-awal pernikahan rasanya ada haru menyeruak di dalam dada. Cukuplah kisah kami ini menjadi pelajaran bagi ikhwan dan akhwat yang hendak melangkah untuk membina rumah tangga.
Dilihat dari kacamata orang awam kita tergolong menikah muda. Waktu itu alasan takut terjadi fitnah menjadi motivasi utama kami untuk segera menikah, apalagi kami sekampus meski beda jurusan. Hampir tiap hari kami ketemu, karena itulah tanpa berpikir panjang kami memutuskan untuk segera menikah tak lama setelah khitbah.
Urusan kesiapan, waktu itu kami nomor duakan, yang penting kita selamat dari fitnah. Entah siapa yang “membocorkan” waktu itu gosip seputar khitbah kami cukup hangat di antara teman-teman kampus. Makan semakin tergeraklah kami untuk buru-buru menikah….
Awalnya kami terganjal restu orang tua. Mereka tidak merestui karena kita masih sama-sama kuliah. Mereka juga kurang paham bahwa setelah khitbah sudah selayaknya nikah disegerakan. Melalui perdebatan yang lumayan alot akhirnya kedua orang tua kami pun setuju untuk segera menikahkan kami.
Sayangnya kemudahan untuk mencapai pernikahan ini kurang kami imbangi dengan kesiapan layaknya orang yang mau menikah. Yang terpikirkan waktu itu hanya bagaimana cara untuk segera menikah. Akhirnya Ijab
Hari demi hari pasca menikah kami lalui dengan penuh haru biru. Ternyata menikah sambil kuliah tak semudah dalam bayangan, apalagi kami sudah hidup mandiri dengan mengontrak rumah dan suami belum bekerja tetap. Alhasil semua kebutuhan rumah tangga kami sendirilah yang menanggung. Semua pekerjaan rumah tangga kami pulalah yang mengerjakan. Cukup melelahkan memang. ….
Untuk mencukupi biaya hidup kami berdua benar-benar memutar otak untuk tetap bertahan tanpa menyusahkan orang tua. Walhasil mulailah kami berupaya berdagang meski tanpa pengetahuan sedikitpun. Sebulan setelah menikah (kebetulan bulan Ramadhan) kami berjualan kurma, dengan mengabaikan rasa malu dan canggung kami menawarkan dagangan pada teman-teman kampus dan teman-teman ta’lim dan bahkan di pasar. Karena hasil dari berjualan kurma tidak seberapa, kami beralih berjualan kue-kue yang kami buat sendiri untuk kemudian dititipkan di sekolah-sekolah.
Inipun bukan tanpa perjuangan, karena tak begitu mahir membuat kue kadang komentar tak enak pun terpaksa kami terima. Meski begitu kami tidak menyerah, kami tetap berjualan sambil banyak belajar dari buku-buku resep. Sampai akhirnya kami dikenal sebagai pembuat pastel dan pisang molen yang bisa diandalkan, baik dari segi harga maupun kualitasnya. Bahkan ada juga teman yang memesan untuk suguhan saat seminar. Alhamdulillah….
Kini, sudah hampir empat tahun kami menikah dan sudah dikaruniai seorang putri yang lucu. Berkat kelapangan riski dari Allah kami tak lagi berjualan kue-kue yang sebenarnya hasilnya tak seberapa. Apalagi jika dibandingkan dengan biaya hidup jaman sekarang yang terus melambung naik. Qadarullah suamiku kini mulai beralih pada bisnis di bidang pertanian yang prospeknya cukup menggembirakan. Kini kami tak lagi menjadi beban orang tua, malah kami bisa membantu mereka meskipun tidak banyak.
Dari pengalaman kami dalam berumah tangga, rasanya kurang bijaksana bila hasrat menikah tidak diimbangi dengan kesiapan ilmu, maisyah dan kedewasaan. Perjuangan untuk melengkapi Din pasti tidak mudah dan akan penuh liku. Saudaraku, persiapkanlah dirimu untuk mengikuti sunnah Rasul dengan sungguh-sungguh, karena ternyata berbekal nekat saja tidak akan pernah cukup. (Ummu Syifa’)
PS. Tuk suami dan putri kecilku, Uhibbukuma fillah