Sabtu, 02 Februari 2008

BUDAYA JAJAN ANAK-ANAK INDONESIA

by Ummu Syifa'

Kalau anda sempat memperhatikan apa yang menjadi kerumunan siswa-siswi sekolah saat jam istirahat berlangsung, pastilah bakul jajan alias penjual makananlah jawabannya. Pemandangan ini tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah dasar, tapi merata mulai tingkatan playgroup hingga SMU, bahkan tak jarang pula bakul jajan ini mulai merambah dunia kampus. Aneka jajanan seolah terhidang dihadapan anak-anak kita, Dan siap membangkitkan selera siapa saja yang melihatnya. Mulai sosis goreng, tempura, cilot (sejenis bakso), aneka minuman, belum lagi snack dalam kemasan yang tak terhitung lagi jenisnya.

Dari sini, dapat ditarik kesimpulan awal bahwa kebanyakan anak Indonesia cenderung suka jajan. Entah siapa yang memulai ‘budaya’ ini, yang jelas bisikan njajan seolah sudah terngiang di telinga anak-anak Indonesia saat bel tanda istirahat berbunyi. Tapi toh, tak ada gunanya pula mencari-cari siapa pencetus budaya ‘unik’ ini, yang lebih penting saat ini adalah menyadarkan generasi muda untuk meminimalisir budaya njajan atau paling tidak memberikan sedikit wawasan untuk memilih jajanan sehat.

Pemandangan yang bertolak belakang justru kita temui di negara-negara maju, yang notabene (sebenarnya) memiliki daya beli lebih dibandingkan penduduk negeri ini, Jepang misalnya. Di negeri sakura siswa-siswinya nggak punya kebiasaan njajan, jadi mana mungkin ada penjual makanan di sekolah. Mereka sudah terbiasa membawa bekal sejak mereka kanak-kanak. Wah, andai anak-anak kita memiliki kebiasaan yang sama. Tentu akan lebih banyak membawa maanfaat.

Dengan membawa bekal makanan dari rumah, anak-anak tentu akan lebih bisa berhemat, uang saku bisa masuk dalam tabungan yang sewaktu-waktu dapat mereka pergunakan bila ada kebutuhan mendadak tanpa meminta pada ortu. Terlebih lagi makanan dari rumah lebih terjamin kehalalan dan kebersihannya, karena ibulah yang mengolahnya. Bukankah sebagi seorang muslim kita kudu mmemperhatikan apa-apa yang kita makan, tak cukup halal tapi juga thoyyib (baik). Allah berfirman,

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah:88)

Yang dimaksud baik disini berarti baik pula bagi kesehatan. Sebagai perwujudan syukur kita atas nikmat sehat yang telah allah berikan kepada kita, sudah selayaknyalah kita makan makanan yang sehat dan berguna bagi tubuh, tidak sembarangan mengikuti keinginan.

Penahkan kita bayangkan, apakah makanan halal lagi sehat yang telah kita makan hari ini? Terutama jika kita memiliki anak-anak usia sekolah, sudahkah kita sebagai orang tua memberikan makanan yangsehat dan halal. Jawabannya tentulah anda yang lebih tahu. Sekedar informasi, sekarang ini sudah semakin banyak beredar beraneka macam makanan dan minuman dengan tingkat keamanan yang mengkhawatirkan.

Parahnya lagi, makanan-makanan berbahaya itu justru banyak ditemui di tempat anak-anak biasa njajan, di sekolah misalnya. Mungkin anak-anak tidak banyak tahu kalau saus tomat yang biasa menemani bakso mereka mengandung sakarin (pemanis sintetis yang diduga kuat bisa menyebabkan kanker), dan juga pewarna sintetis yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Belum lagi penambahan MSG yang berlebihan pada snack-snack dalam kemasan. Atau bahaya penggunaan pengawet yang melebihi takaran atau bahkan pengawet yang tidak diperuntukkan untuk makanan. Sudahkah anak-anak kita tahu dengan bahaya yang mengintai kesehatan mereka dikemudian hari? Sudahkah kita mengingatkan mereka?

Seandainya anak-anak kita masih kikuk untuk sekedar membawa bekal, bukankah masih ada alternatif lain untuk memilih makanan/jajanan yang lebih sehat seperti jus buah, atau kalaupun terpaksa membeli snack cobalah untuk membaca komposisi yang terdapat pada kemasannya, terdapat bahan berbahayakah?

Jaman yang serba modern, tidak serta merta meringankan beban kita sebagai orang tua, tapi malah menyisakan setumpuk pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk diselesaikan. Masalah makanan ini hanyalah satu dari banyak permasalahan sebagai dampak modernisasi. Tentulah sebagai seorang muslim kita tidak akan berdiam saja bukan? Masih banyak ilmu yang belum kita kuasai, masih banyak tugas yang harus kita selesaikan. Mari kita bersiap…


Tidak ada komentar: