Sabtu, 02 Februari 2008

Tak cukup bermodalkan nekat


by Ummu Syifa

Jika teringat kehidupan kami di awal-awal pernikahan rasanya ada haru menyeruak di dalam dada. Cukuplah kisah kami ini menjadi pelajaran bagi ikhwan dan akhwat yang hendak melangkah untuk membina rumah tangga.

Dilihat dari kacamata orang awam kita tergolong menikah muda. Waktu itu alasan takut terjadi fitnah menjadi motivasi utama kami untuk segera menikah, apalagi kami sekampus meski beda jurusan. Hampir tiap hari kami ketemu, karena itulah tanpa berpikir panjang kami memutuskan untuk segera menikah tak lama setelah khitbah.

Urusan kesiapan, waktu itu kami nomor duakan, yang penting kita selamat dari fitnah. Entah siapa yang “membocorkan” waktu itu gosip seputar khitbah kami cukup hangat di antara teman-teman kampus. Makan semakin tergeraklah kami untuk buru-buru menikah….

Awalnya kami terganjal restu orang tua. Mereka tidak merestui karena kita masih sama-sama kuliah. Mereka juga kurang paham bahwa setelah khitbah sudah selayaknya nikah disegerakan. Melalui perdebatan yang lumayan alot akhirnya kedua orang tua kami pun setuju untuk segera menikahkan kami.

Sayangnya kemudahan untuk mencapai pernikahan ini kurang kami imbangi dengan kesiapan layaknya orang yang mau menikah. Yang terpikirkan waktu itu hanya bagaimana cara untuk segera menikah. Akhirnya Ijab kabul pun terlaksana, dan kami resmi menjadi pasangan suami istri.

Hari demi hari pasca menikah kami lalui dengan penuh haru biru. Ternyata menikah sambil kuliah tak semudah dalam bayangan, apalagi kami sudah hidup mandiri dengan mengontrak rumah dan suami belum bekerja tetap. Alhasil semua kebutuhan rumah tangga kami sendirilah yang menanggung. Semua pekerjaan rumah tangga kami pulalah yang mengerjakan. Cukup melelahkan memang. ….

Untuk mencukupi biaya hidup kami berdua benar-benar memutar otak untuk tetap bertahan tanpa menyusahkan orang tua. Walhasil mulailah kami berupaya berdagang meski tanpa pengetahuan sedikitpun. Sebulan setelah menikah (kebetulan bulan Ramadhan) kami berjualan kurma, dengan mengabaikan rasa malu dan canggung kami menawarkan dagangan pada teman-teman kampus dan teman-teman ta’lim dan bahkan di pasar. Karena hasil dari berjualan kurma tidak seberapa, kami beralih berjualan kue-kue yang kami buat sendiri untuk kemudian dititipkan di sekolah-sekolah.

Inipun bukan tanpa perjuangan, karena tak begitu mahir membuat kue kadang komentar tak enak pun terpaksa kami terima. Meski begitu kami tidak menyerah, kami tetap berjualan sambil banyak belajar dari buku-buku resep. Sampai akhirnya kami dikenal sebagai pembuat pastel dan pisang molen yang bisa diandalkan, baik dari segi harga maupun kualitasnya. Bahkan ada juga teman yang memesan untuk suguhan saat seminar. Alhamdulillah….

Kini, sudah hampir empat tahun kami menikah dan sudah dikaruniai seorang putri yang lucu. Berkat kelapangan riski dari Allah kami tak lagi berjualan kue-kue yang sebenarnya hasilnya tak seberapa. Apalagi jika dibandingkan dengan biaya hidup jaman sekarang yang terus melambung naik. Qadarullah suamiku kini mulai beralih pada bisnis di bidang pertanian yang prospeknya cukup menggembirakan. Kini kami tak lagi menjadi beban orang tua, malah kami bisa membantu mereka meskipun tidak banyak.

Dari pengalaman kami dalam berumah tangga, rasanya kurang bijaksana bila hasrat menikah tidak diimbangi dengan kesiapan ilmu, maisyah dan kedewasaan. Perjuangan untuk melengkapi Din pasti tidak mudah dan akan penuh liku. Saudaraku, persiapkanlah dirimu untuk mengikuti sunnah Rasul dengan sungguh-sungguh, karena ternyata berbekal nekat saja tidak akan pernah cukup. (Ummu Syifa’)

PS. Tuk suami dan putri kecilku, Uhibbukuma fillah

Tidak ada komentar: